JAKARTA, KabarSatu.id - Istana Merdeka bukan lagi sekadar bangunan yang selama ini hanya dilihat dari layar televisi bagi keluarga Neeltje Deliana Insjowi Werimon.
Pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8), tempat itu menjadi saksi momen yang tak terlupakan bagi keluarga Paskibraka Neeltje Werimon asal Papua tersebut.
Untuk pertama kalinya, kedua orang tua Neeltje, Aiwoisendin Hendrik Werimon dan Steffi Edithya Florence Awom, menginjakkan kaki di Istana sekaligus menyaksikan langsung putri mereka menjalankan tugas sebagai pembawa baki Bendera Merah Putih dalam upacara penurunan bendera.
Bagi Aiwoisendin, pengalaman tersebut terasa istimewa. Selama ini, Istana Merdeka hanya ia kenal melalui tayangan televisi.
“Selama ini kita selalu nonton dari TV. Jadi pertama lihat ini, ‘Eh, ini kayak di TV begini.’ Jadi luar biasa. Kami cukup kagum dengan melihat kenyataan dari Istana ini,” ujar Aiwoisendin.
Baca Juga: HUT ke-81 RI, 192 Warga Binaan Lapas Purwodadi Peroleh Remisi
Pertemuan Pertama dengan Presiden
Kebanggaan itu bertambah ketika Aiwoisendin untuk pertama kalinya dapat bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden atas kesempatan yang diberikan kepada para Paskibraka untuk menjalankan tugas dalam upacara kenegaraan.
“Kepada Pak Presiden, terima kasih untuk kesempatan ini yang diberikan kepada anak-anak kami,” katanya.
Aiwoisendin juga berharap Presiden Prabowo selalu diberi kesehatan serta mampu mengambil keputusan terbaik bagi bangsa dan negara.
“Kami berharap Bapak selalu sehat dan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk bangsa dan negara,” ujarnya.
Dari Tak Tertarik hingga Jadi Pembawa Baki
Perjalanan Neeltje menuju Istana ternyata bermula dari keputusan yang sempat mengejutkan keluarganya. Aiwoisendin mengaku, sebelumnya putrinya justru tidak tertarik mengikuti kegiatan Paskibraka.
Karena itu, ketika Neeltje memilih mengikuti seleksi dan menjalani proses hingga menjadi Paskibraka saat SMA, keluarga sempat terkejut.
Namun, keputusan tersebut akhirnya mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
“Kita sangat kaget saat dia memilih untuk mengikuti Paskibraka, karena dia sebelumnya tidak tertarik dengan kegiatan itu. Dan saat dia SMA dan dia memutuskan untuk mengambil itu, kami cukup kaget dan akhirnya kami mendukung,” tuturnya.
Artikel Terkait
Gugup di Tangga Istana, Paskibraka Papua Neeltje Berubah Jadi Bangga