JAKARTA, KabarSatu.id - Pendidikan Indonesia dinilai perlu berbenah. Bukan sekadar mengejar banyaknya lulusan, tetapi memastikan ilmu yang diperoleh benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan tetap membentuk manusia berkarakter.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mendorong penataan ulang sistem pendidikan nasional untuk menjawab kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan lapangan kerja.
Dorongan itu mencuat setelah laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7, Juli 2026, mengungkap fenomena overeducation di Indonesia.
Fenomena tersebut terjadi ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dibandingkan kualifikasi yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang dijalankannya.
Laporan itu mencatat sekitar 8,01 juta lulusan sarjana bekerja pada posisi yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikannya atau berada di bawah standar kompetensi yang dimiliki.
Bagi Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, angka tersebut bukan sekadar statistik ketenagakerjaan. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni belum kuatnya hubungan antara pendidikan, kompetensi lulusan dan kebutuhan pemberi kerja.
“Sistem pendidikan kita saat ini sedang berada di persimpangan jalan dan membutuhkan transformasi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan teknis, tetapi juga kapasitas berpikir dan mampu mengaplikasikan ilmu mereka,” kata Rerie Moerdijat dalam keterangan tertulisnya dilansir KabarSatu.id dari portal berita resmi MPR RI, Selasa (11/8).
Baca Juga: Jaga Kepercayaan Publik, Polisi Demak Diminta Tinggalkan Judol dan Narkoba
Jangan Terjebak Logika Pasar
Lestari menilai pembenahan pendidikan tidak boleh dilakukan dengan menjadikan kebutuhan pasar sebagai satu-satunya ukuran.
Menurut dia, pendidikan tetap harus menjalankan fungsi utamanya dalam membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter serta memahami nilai budaya dan kebangsaan.
Pandangan itu sejalan dengan cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan bukan semata sebagai jalan menuju pekerjaan, tetapi sebagai proses membentuk manusia seutuhnya.
Karena itu, penyesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas berpikir dan karakter peserta didik.
Lulusan Bertambah, Pekerjaan Berkualitas Harus Mengimbangi
Lestari yang juga Anggota Komisi X DPR RI menilai persoalan overeducation tidak bisa dilepaskan dari ketidakseimbangan antara pertumbuhan tenaga kerja terdidik dan penciptaan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tinggi.
Jika jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah tanpa diikuti perluasan lapangan kerja profesional dan produktif, maka risiko ketidaksesuaian pekerjaan akan semakin besar.
Karena itu, diperlukan perencanaan yang lebih matang antara perluasan akses pendidikan tinggi dengan strategi penciptaan lapangan kerja.
Artikel Terkait
Semangat Kemerdekaan Membara, 900 Pelajar Tengaran Adu Kreasi Tari Keprajuritan