Sementara teknologi pirolisis diarahkan untuk menangani residu atau sampah yang tidak lagi dapat diselesaikan melalui pendekatan konvensional.
“Teknologi bukan berarti masyarakat boleh berhenti memilah sampah. Semakin maju teknologinya, semakin penting sampah dipilah dari sumbernya,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengolahan berbasis teknologi harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat.
“Pengolahan berbasis teknologi disiapkan untuk menangani residu, sementara gerakan Semarang Wegah Nyampah tetap berjalan di hulu. Yang kita bangun adalah sistemnya, bukan hanya mesin,” ungkap Agustina.
Baca Juga: Bupati Kebumen Cek Bedah Rumah, Bantuan Menyasar 24 Warga
Harus Aman dan Berkelanjutan
Pemkot Semarang juga tidak ingin penerapan teknologi pirolisis hanya mengejar kemampuan mengurangi volume sampah.
Berbagai aspek akan menjadi pertimbangan, mulai dari dampak lingkungan, regulasi, keselamatan, hingga keberlanjutan ekonomi daerah.
Karena itu, setiap tahapan pengembangan teknologi akan dilakukan melalui kajian dan pengawasan yang memadai.
Bagi Pemkot Semarang, teknologi yang diterapkan harus mampu menjawab dua persoalan sekaligus: mengurangi beban sampah dan menciptakan manfaat baru.
“Kita tidak sedang mencari teknologi yang sekadar canggih. Kita mencari teknologi yang benar-benar menyelesaikan masalah,” kata Agustina.
“Kalau sampah berkurang, lingkungan lebih baik, dan hasil pengolahannya bisa memberi nilai tambah, itu baru namanya solusi,” lanjutnya.
Dengan masuknya Semarang sebagai salah satu lokasi pilot project nasional, tantangannya kini bukan lagi sekadar bagaimana mengolah sampah, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang aman, terukur, dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Netanyahu Tolak Rencana Damai Trump untuk Gaza
Bali Menuju Pusat Finansial, SDM Lokal Harus Jadi Pemain