DENPASAR, KabarSatu.id - Bali tengah memasuki babak baru pembangunan ekonomi. Tak lagi hanya mengandalkan sektor pariwisata, Pulau Dewata diproyeksikan berkembang menjadi salah satu pusat keuangan dan investasi internasional.
Transformasi tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi masyarakat Bali. Namun, peluang itu hanya akan memberi dampak luas jika masyarakat lokal memiliki kompetensi yang mampu bersaing di level global.
Ketua STISPOL Wira Bhakti, Dr. Ir. I Wayan Sugiartana, yang akrab disapa Sugik, mendorong agar masyarakat Bali tidak sekadar menjadi penonton dalam perubahan tersebut.
Menurutnya, masyarakat lokal harus dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga implementasi pengembangan Bali Financial Center di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
“Bali tidak boleh hanya menjadi lokasi investasi. Masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama yang mengambil manfaat dari transformasi ekonomi ini melalui peningkatan kualitas SDM,” ujar Sugik.
Kebutuhan SDM Ikut Berubah
Sugik menilai pengembangan Bali Financial Center akan membawa perubahan terhadap struktur kebutuhan tenaga kerja di Bali.
Selama ini, pariwisata menjadi salah satu penopang utama ekonomi Bali. Ke depan, kebutuhan tenaga profesional akan semakin beragam seiring masuknya investor asing, family office, perusahaan teknologi, hingga lembaga jasa keuangan internasional.
SDM Bali, kata dia, perlu dipersiapkan untuk menguasai berbagai bidang strategis. Di antaranya investasi internasional, perpajakan global, teknologi finansial atau fintech, keamanan siber, hukum bisnis internasional, manajemen risiko, tata kelola perusahaan, analisis data hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, juga menjadi bagian penting. Kompetensi tersebut dibutuhkan agar tenaga kerja lokal mampu berkomunikasi dan bernegosiasi dengan investor maupun pelaku usaha dari berbagai negara.
“Dunia keuangan internasional membutuhkan integritas, profesionalisme, kemampuan berpikir kritis dan penerapan standar tata kelola yang baik,” jelasnya.
Baca Juga: Bupati Kebumen Cek Bedah Rumah, Bantuan Menyasar 24 Warga
Kampus Dituntut Lebih Adaptif
Perubahan kebutuhan industri tersebut, lanjut Sugik, membuat perguruan tinggi memiliki posisi strategis. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Karena itu, perguruan tinggi, lembaga pendidikan vokasi dan dunia usaha didorong memperkuat kolaborasi.
Langkahnya dapat dilakukan melalui penyempurnaan kurikulum, sertifikasi profesi, program magang hingga kemitraan langsung dengan industri jasa keuangan dan ekonomi digital.
Dengan pola tersebut, lulusan lokal diharapkan tidak hanya siap masuk ke pasar kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang dan mengambil posisi strategis dalam ekosistem ekonomi baru Bali.
Artikel Terkait
Ajarkan Anak Pilah Sampah Sambil Bermain, Mahasiswa IPB University Kenalkan Program SIPILAH di Desa Teluk
Netanyahu Tolak Rencana Damai Trump untuk Gaza
Lift Tebing Tiongkok Raih Rekor Dunia Guinness