Jumat, 21 Agustus 2026

Semarang Jadi Pilot Nasional, Sampah Diolah Jadi Bahan Bakar

Photo Author
N. Rochman, KabarSatu.id
- Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:45 WIB
Pemkot Semarang menetapkan Perwal No. 7 Tahun 2025 tentang pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. (KabarSatu.id/ foto: Humas Pemkot Semarang)
Pemkot Semarang menetapkan Perwal No. 7 Tahun 2025 tentang pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. (KabarSatu.id/ foto: Humas Pemkot Semarang)

KOTA SEMARANG, KabarSatu.id - Sampah di Kota Semarang tak lagi hanya dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang. Pemerintah Kota Semarang kini mendorong pemanfaatan teknologi untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah.

Kota Semarang dipercaya menjadi salah satu daerah percontohan nasional penerapan teknologi pirolisis, teknologi yang dirancang mengolah sampah menjadi bahan bakar.

Kepercayaan itu ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti dan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Bagi Pemkot Semarang, kerja sama tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun pola pengelolaan sampah yang tidak semata mengandalkan cara konvensional.

“Persoalan sampah sudah sangat mendesak. Kita tidak bisa terus menggunakan cara lama. Teknologi harus dipakai untuk mengurangi sampah sekaligus mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai,” kata Agustina melalui keterangan resminya, Senin (10/8).

Bukan Sekadar Mesin Pengolah Sampah

Dalam kesepakatan tersebut, teknologi pirolisis direncanakan diterapkan di sejumlah daerah prioritas. Selain Kota Semarang, wilayah yang masuk dalam pilot project tersebut yakni Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kabupaten Bogor.

Keterlibatan TNI AD dalam program ini merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh jajaran turut mengambil peran dalam mencari solusi terhadap persoalan sampah yang telah berkembang menjadi tantangan nasional.

Namun bagi Agustina, predikat sebagai daerah pilot project nasional bukan sekadar soal mendapatkan teknologi baru.

Menurutnya, keberhasilan program harus dapat diukur secara konkret, terutama dari kemampuan teknologi tersebut mengurangi timbulan sampah, aspek keselamatan, serta manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Kalau Kota Semarang dipercaya menjadi bagian dari pilot project nasional, maka ukurannya adalah berapa banyak sampah yang bisa dikurangi, seberapa aman teknologinya, dan sebesar apa manfaatnya bagi masyarakat,” tegasnya.

Karena itu, Pemkot Semarang tidak ingin teknologi pirolisis berdiri sendiri tanpa terhubung dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah dibangun.

Baca Juga: Ajarkan Anak Pilah Sampah Sambil Bermain, Mahasiswa IPB University Kenalkan Program SIPILAH di Desa Teluk

Hulu Tetap Jadi Kunci

Agustina menegaskan, penggunaan teknologi tidak berarti upaya pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya dihentikan.

Sebaliknya, pengelolaan dari tingkat hulu tetap menjadi bagian penting. Pemkot Semarang akan terus mendorong pengurangan serta pemilahan sampah sejak dari rumah dan sumber produksi sampah.

Program "Semarang Bersih" dan gerakan Semarang Wegah Nyampah tetap menjadi instrumen untuk membangun kesadaran masyarakat.

Halaman:

Editor: Moh Wahyu Hamijaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PN Sintang Dekatkan Layanan Lewat Mobil dan PRISMA

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:05 WIB

Pelajar Demak Jadikan AI Senjata Lawan Kriminalitas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:22 WIB

1.900 Pegawai Kemensos Terindikasi Judi Online

Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:22 WIB

Lift Tebing Tiongkok Raih Rekor Dunia Guinness

Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:41 WIB

Anak Terseret Promosi Vape, Kemkomdigi Tegur YouTube

Selasa, 4 Agustus 2026 | 06:32 WIB
X