Sebaliknya, apabila penanganan terlambat, risiko gangguan berjalan, kapalan, luka, nyeri hingga kecacatan permanen dapat meningkat.
Terapi CTEV dapat dilakukan menggunakan metode Ponseti melalui manipulasi kaki dan pemasangan gips secara bertahap.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat melakukan tenotomy tendon Achilles sebelum pasien menggunakan foot abduction brace.
Pada tahap awal, brace digunakan hingga 23 jam per hari selama kurang lebih tiga bulan.
Penggunaan berikutnya dikurangi secara bertahap menjadi sekitar 12–14 jam sehari sampai anak berusia sekitar tiga hingga empat tahun.
Baca Juga: HUT ke-81 RI di Demak, Kemerdekaan Diisi Kerja Nyata
Astutik menekankan pentingnya kepatuhan orang tua dalam menjalankan terapi, terutama dalam penggunaan brace.
Penanganan ideal dapat dimulai ketika bayi berusia sekitar 7–10 hari dan sebelum anak mulai berjalan.
Namun, anak yang sudah mulai berjalan tetap dapat memperoleh penanganan sesuai kondisi dan tingkat keparahannya.
Pada kasus tertentu, anak yang lebih besar dapat membutuhkan tindakan tambahan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Demak yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, terdapat 19 kasus CTEV yang tersebar di delapan kecamatan.
Baca Juga: Jepang Kenang 3,1 Juta Korban Perang Dunia II
Wedung menjadi kecamatan dengan jumlah kasus paling banyak, yakni enam kasus.
Bonang berada di urutan berikutnya dengan empat kasus. Dempet, Karangawen dan Karangtengah masing-masing mencatat dua kasus.
Sementara Guntur, Sayung dan Mijen masing-masing ditemukan satu kasus.
Artikel Terkait
iPhone 18 Pro Mengintip, Ini Prediksi Jadwal Rilis 2026
PAN Gresik Didorong Perkuat Suara dan Kursi Jelang Pemilu 2029
Polda Jatim Kirim Logistik dan Personel untuk Bantu Warga Terdampak Bencana NTT