KOTA SEMARANG, KabarSatu.id - Keseriusan Kota Semarang mencari jalan keluar dari persoalan sampah memasuki babak baru. Usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan teknologi pirolisis sebagai salah satu pilot project pengolahan sampah menjadi bahan bakar, perhatian kini bergeser pada satu pertanyaan penting yakni seberapa siap teknologi tersebut diterapkan di lapangan?
Teknologi pirolisis menjadi salah satu opsi yang dinilai dapat mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi. Namun, penerapannya tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan menghasilkan bahan bakar.
Efektivitas pengolahan, keamanan lingkungan, keekonomian, hingga dampaknya terhadap beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang menjadi bagian yang harus diuji secara terbuka.
Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Irwan Leokita, menilai langkah tersebut layak diapresiasi. Meski demikian, ia mengingatkan agar proses pengembangan teknologi pirolisis tidak berhenti sebatas proyek percontohan.
“Sebagai anggota DPRD, saya melihat ini sebagai langkah yang patut diapresiasi, tetapi tetap harus dikawal dari sisi efektivitas dan dampak lingkungannya,” ujar Irwan dalam pernyataan tertulis kepada KabarSatu.id, Rabu (12/8).
Menurutnya, ukuran keberhasilan teknologi pengolahan sampah bukan sekadar keberadaan fasilitas atau teknologi yang digunakan.
Hal paling penting, lanjutnya, soal teknologi tersebut benar-benar mampu mengurangi persoalan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk menekan beban sampah yang masuk ke TPA Jatibarang.
“Teknologi pengolahan sampah jangan hanya berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi harus benar-benar mampu mengurangi beban TPA Jatibarang, aman bagi lingkungan, dan memberi manfaat ekonomi,” terangnya.
Baca Juga: Semangat Kemerdekaan Membara, 900 Pelajar Tengaran Adu Kreasi Tari Keprajuritan
Sampah Lama Bisa Jadi Sumber Bahan Bakar
Salah satu aspek yang menarik dalam penerapan pirolisis di Kota Semarang adalah peluang pemanfaatan sampah yang selama ini telah menumpuk di kawasan TPA.
Irwan menyebut, apabila teknologi tersebut berjalan efektif, sampah lama di TPA dapat ditangani melalui konsep mining atau pemilahan dan pengambilan kembali material yang masih memiliki nilai guna untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku.
“Kalau berhasil, teknologi pirolisis ini di Kota Semarang bukan hanya menyelesaikan persoalan sampah yang menumpuk di TPA karena sampah lama akan di-*mining* untuk dijadikan bahan bakar pirolisis, tetapi juga bisa menjadi contoh pengelolaan sampah bagi daerah lain,” katanya.
Konsep tersebut sekaligus membuka peluang perubahan cara pandang terhadap TPA. Sampah yang selama ini dianggap sebagai beban dapat dipetakan kembali berdasarkan karakteristik dan potensi pemanfaatannya.
Namun, proses tersebut tetap membutuhkan kajian teknis yang matang. Pemilahan material, kualitas bahan baku, efisiensi proses, emisi, residu hasil pengolahan hingga keamanan fasilitas menjadi faktor yang menentukan teknologi pirolisis benar-benar layak dikembangkan dalam skala lebih besar.
Baca Juga: Jaga Kepercayaan Publik, Polisi Demak Diminta Tinggalkan Judol dan Narkoba
Artikel Terkait
Lestari Moerdijat Dorong Pendidikan Tak Sekadar Cetak Lulusan
Penguatan Kurikulum PAUD, Disdik Semarang Bidik Kualitas Guru