TAKALAR, KabarSatu.id - Sehelai daun lontar mungkin terlihat sederhana. Namun di Desa Sawakong, Kabupaten Takalar, bahan alam itu menyimpan pengetahuan, keterampilan dan identitas budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tengah gempuran produk modern, para perempuan pengrajin di komunitas Karya Insani memilih tetap menganyam. Bedanya, kini tradisi tersebut mulai diarahkan untuk menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akar budayanya.
Upaya itu mendapat dorongan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Program tersebut mengusung kegiatan “Pengembangan Inovasi Seni Kriya Anyaman Serat Daun Lontar Berbasis Komunitas Ekonomi Kreatif di Desa Sawakong, Kabupaten Takalar.”
Tradisi Tak Harus Berhenti di Masa Lalu
Selama ini, aktivitas menganyam di Sawakong masih banyak dilakukan secara individual dan berbasis rumah tangga. Bentuk produknya pun cenderung seragam.
Persoalannya bukan pada tradisi, melainkan bagaimana membuat tradisi tetap relevan ketika selera konsumen berubah dan persaingan produk kreatif semakin ketat.
PISN hadir dengan pendekatan yang tidak menggantikan tradisi, tetapi mengembangkannya melalui seni, desain dan kreativitas.
Eksplorasi dilakukan pada bentuk, fungsi, warna, teknik, hingga finishing. Daun lontar tidak lagi hanya dipandang sebagai bahan untuk membuat kerajinan sehari-hari, tetapi sebagai medium untuk melahirkan karya seni dan desain yang memiliki nilai tambah.
Prinsipnya sederhana: akar tradisinya tetap, bentuk pengembangannya yang bergerak.
Baca Juga: Berawal dari Ajakan Ngopi, Pemuda Bawen Diduga Dianiaya hingga Masuk Rumah Sakit
Perempuan Menjaga, Generasi Muda Melanjutkan
Kekuatan komunitas Karya Insani berada pada para perempuan pengrajinnya.
Di tengah peran mereka dalam keluarga dan kehidupan sosial, keterampilan menganyam tetap dipertahankan. Mereka bukan sekadar pembuat produk, tetapi juga menjadi penjaga pengetahuan budaya Sawakong.
Namun ada satu persoalan yang perlu segera dijawab: regenerasi.
Keterlibatan anak muda dalam aktivitas menganyam masih terbatas. Jika tidak ada ruang untuk transfer pengetahuan, keterampilan yang diwariskan turun-temurun berisiko semakin ditinggalkan.
Karena itu, PISN mendorong ruang belajar lintas generasi. Pengrajin senior berbagi teknik dan pengalaman, sementara generasi muda diberi kesempatan mengeksplorasi desain, kreativitas, teknologi dan media baru.
Artikel Terkait
1.488 Pramuka Jateng Ikuti Jamnas XII, Gubernur Dorong Mereka Berani Memimpin
RSUD Tapaktuan Kini Layani Pemasangan Ring Jantung BPJS
Saat Iman, Adat, dan Kebijakan Bersatu Menjaga Hutan Papua