Mardiati juga mengingatkan agar AI tidak digunakan sebagai pengganti kemampuan berpikir.
Menurutnya, teknologi tersebut seharusnya ditempatkan sebagai sarana pendukung sehingga pelajar tetap melakukan penalaran dan pemeriksaan terhadap informasi yang diperoleh.
“Jangan hanya menerima hasil dari AI begitu saja. Informasi yang didapat perlu dipahami, diperiksa, dan dipertimbangkan kembali,” katanya.
Topik lain yang diberikan yakni Fighting Hoax with AI.
Materi ini mengajarkan peserta mengenai penggunaan teknologi AI untuk membantu mendeteksi informasi yang patut dicurigai sebagai berita bohong.
Para siswa juga diberi pemahaman bahwa AI bukan satu-satunya sumber untuk menentukan benar atau tidaknya sebuah informasi.
Verifikasi melalui sumber terpercaya tetap diperlukan sebelum informasi disebarluaskan.
“Kecepatan arus informasi di ruang digital membuat kemampuan melakukan verifikasi menjadi sangat penting. AI bisa digunakan sebagai alat bantu, tetapi pengguna tetap harus kritis,” jelasnya.
Baca Juga: Semarang Jadi Pilot Nasional, Sampah Diolah Jadi Bahan Bakar
Sementara itu, materi AI Prompts 101 memberikan keterampilan dasar mengenai penyusunan prompt.
Melalui materi tersebut, siswa belajar membuat instruksi yang lebih jelas agar teknologi AI dapat memberikan jawaban sesuai tujuan pengguna.
Agar kegiatan tidak hanya berlangsung satu arah, pelatihan dipadukan dengan praktik dan penyampaian materi melalui cerita.
Peserta juga mengerjakan post test pada setiap modul untuk mengetahui sejauh mana materi dapat dipahami.
Melalui kegiatan ini, Polres Demak berharap siswa SMK Negeri 2 Demak semakin siap menghadapi perkembangan teknologi digital.
Selain memiliki kemampuan memanfaatkan AI, mereka diharapkan mampu menjaga etika, memilah informasi, serta bertanggung jawab atas setiap konten yang dibuat dan dibagikan.
Artikel Terkait
Survei IPO: Teddy Indra Wijaya Berada di Papan Atas
Lulusan Dikmaba Infanteri TNI AD Gelombang II Dilantik, Pangdam IV/Diponegoro Ingatkan Pentingnya Integritas