Jumat, 21 Agustus 2026

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Kirab SABET Hidupkan Kembali Jejak Sejarah Salatiga

Photo Author
Muhamad Nuraeni, KabarSatu.id
- Minggu, 26 Juli 2026 | 15:03 WIB
Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.OG., mengenakan busana adat Jawa saat memimpin Kirab Budaya SABET dalam rangkaian puncak Hari Jadi ke-1276 Kota Salatiga.  (Muhamad Nuraeni)
Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.OG., mengenakan busana adat Jawa saat memimpin Kirab Budaya SABET dalam rangkaian puncak Hari Jadi ke-1276 Kota Salatiga. (Muhamad Nuraeni)

SALATIGA, Kabarsatu.id - Warisan sejarah tidak hanya disimpan dalam prasasti, tetapi dihidupkan melalui ingatan dan kebersamaan masyarakat. Pesan itu terasa dalam Kirab Budaya Salatiga BEDA Festival (SABET) yang menjadi puncak peringatan Hari Jadi ke-1276 Kota Salatiga, Sabtu (25/7/2026).

Ribuan warga memenuhi sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan 100 kelompok peserta yang membawa beragam pertunjukan seni, budaya, tradisi, hingga kreativitas masyarakat. Perhelatan tersebut menjelma menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, ketika nilai sejarah Prasasti Plumpungan diterjemahkan dalam sebuah pesta budaya rakyat.

Kirab ini dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah Kota Salatiga, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Salatiga, Pengageng Sasana Wilapa dan Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, serta sejumlah tamu undangan.

Wali Kota Salatiga dr. Robby Hernawan, Sp.OG., mengatakan SABET bukan sekadar agenda perayaan hari jadi, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah berdirinya Salatiga.

Menurut dia, nilai yang terkandung dalam Prasasti Plumpungan menjadi fondasi penting bagi kehidupan masyarakat Salatiga hingga saat ini.

“Dari prasasti inilah kita belajar bahwa kota ini dibangun di atas nilai-nilai kebersamaan, ketenteraman, dan penghormatan kepada sesama. Nilai-nilai itulah yang harus terus kita jaga hingga hari ini,” kata Robby.

Ia menegaskan, kemajuan sebuah kota tidak boleh membuat masyarakat melupakan akar sejarahnya.

“Karena kami percaya, kota yang maju adalah kota yang tidak melupakan asal-usulnya,” ujarnya.

Rangkaian kirab diawali dengan Prosesi Kirab Agung Prasasti Plumpungan Dumadining Salatiga yang berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga. Dalam prosesi tersebut dilakukan pembacaan Serat Kekancingan Prasasti Plumpungan oleh Rama Wiku Satya Dharma Telaga, dilanjutkan doa lintas agama yang dipimpin Drs. K.H. Noor Rofiq.

Setelah prosesi tersebut, Wali Kota bersama istri memimpin rombongan kirab menuju panggung kehormatan dengan didampingi jajaran Forkopimda.

Suasana semakin semarak ketika barisan bregada dari empat kecamatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Kota Salatiga, peserta Costume Carnival, serta mobil hias berjalan menyusuri rute Jalan Diponegoro, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Sukowati, hingga berakhir di kawasan Alun-Alun Lapangan Pancasila.

Melalui SABET, Pemerintah Kota Salatiga ingin memastikan budaya bukan sekadar menjadi simbol masa lalu, tetapi menjadi energi sosial yang memperkuat identitas kota.

Kirab tersebut menjadi pengingat bahwa keberagaman, toleransi, dan keharmonisan yang selama ini melekat pada Salatiga memiliki akar panjang dari sejarah yang diwariskan sejak masa Prasasti Plumpungan.

Editor: Muhamad Nuraeni

Tags

Terkini

Air PDAM di Semarang Terganggu, Warga Perlu Siaga

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:52 WIB

Grobogan Perkuat BUMD, Ekonomi Lokal Jadi Sasaran

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:26 WIB

HUT ke-81 RI di Demak, Kemerdekaan Diisi Kerja Nyata

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:20 WIB
X