Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan orientasi pemerintahannya yang lebih mengedepankan efek jera terhadap pelaku kriminal.
Bayang-Bayang Warisan Alberto Fujimori
Di balik dukungan terhadap langkah tegas itu, muncul pula kekhawatiran dari sejumlah kalangan. Pengerahan militer dalam urusan keamanan domestik dinilai berpotensi memicu penggunaan kewenangan secara berlebihan apabila tidak diawasi secara ketat.
Kekhawatiran tersebut tidak lepas dari sejarah politik Peru pada dekade 1990-an ketika ayah Keiko, Alberto Fujimori, memimpin negara dengan gaya pemerintahan yang dikenal sangat keras terhadap kelompok bersenjata dan kriminal. Di satu sisi, pendekatan itu dianggap berhasil memulihkan stabilitas keamanan.
Namun di sisi lain, pemerintahannya juga menuai kritik internasional terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia serta praktik otoritarianisme.
Kini, publik Peru dan komunitas internasional akan mencermati apakah Keiko Fujimori mampu menjaga keseimbangan antara efektivitas pemberantasan kejahatan dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip demokrasi serta hak asasi manusia.
Pemerintahan baru tersebut pun memasuki ujian pertamanya: membuktikan bahwa kebijakan darurat yang diambil bukan sekadar simbol ketegasan, melainkan solusi nyata untuk mengembalikan keamanan tanpa mengulang kontroversi yang pernah membayangi era kepemimpinan keluarganya.
Artikel Terkait
BI Gandeng Media Belajar ke Bali, Siapkan Promosi Pariwisata Berkelanjutan Jawa Tengah yang Lebih Kuat
Pohon Tumbang Timpa SDN Sendangmulyo, DPRD Dorong Mitigasi Risiko di Seluruh Sekolah
Jateng United Mengintip Panggung Kongres PSSI, Nasib Eks Malut United Dibahas 3 Agustus