SEMARANG, kabarsatu.id - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengajak pelaku industri air minum dalam kemasan (AMDK) untuk mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan melalui pengelolaan sumber daya air yang bertanggung jawab serta pengurangan dampak terhadap lingkungan.
Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menerima audiensi pengurus Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) Jawa Tengah-DIY di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (1/7/2026).
Pertemuan itu juga dimanfaatkan untuk menyampaikan agenda Musyawarah Daerah (Musda) Amdatara.
Ketua Umum DPP Amdatara, Karyanto Wibowo, menyebut sektor AMDK nasional masih menunjukkan perkembangan positif dengan pertumbuhan sekitar 5,5 persen setiap tahun.
Dari ratusan perusahaan yang beroperasi di Indonesia, sekitar 130 di antaranya berada di Jawa Tengah.
Ia menilai potensi tersebut harus diimbangi dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Karena itu, Amdatara terus mengajak seluruh anggotanya menjalankan program konservasi air sebagai bagian dari tanggung jawab industri.
Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari penghijauan di kawasan mata air dengan penanaman sekitar 2.000 pohon hingga penguatan pengelolaan limbah plastik melalui fasilitas daur ulang di Semarang, Salatiga, dan Wonosobo.
Selain mengurangi pencemaran lingkungan, Amdatara juga berupaya membangun rantai ekonomi sirkular dengan menjadi mitra penyerap hasil daur ulang plastik agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku berbagai produk.
Gubernur Ahmad Luthfi mengapresiasi komitmen tersebut.
Menurutnya, keberadaan industri AMDK memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah, namun harus tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan, khususnya dalam pemanfaatan air tanah.
Ia menegaskan bahwa seluruh pelaku usaha wajib mematuhi aturan terkait penggunaan air tanah serta memperkuat program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang memberikan manfaat nyata bagi pelestarian alam.
Luthfi juga mendorong penerapan industri hijau melalui efisiensi penggunaan air dan energi, pengurangan emisi karbon, serta peningkatan kerja sama dengan bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
Langkah tersebut dinilai penting mengingat volume sampah di Jawa Tengah mencapai sekitar 19 ribu ton setiap hari, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar.
Melalui kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha, diharapkan pertumbuhan industri dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan sumber daya air.
Artikel Terkait
Diduga Dipicu Percikan Mesin, Pertamini di Ungaran Timur Terbakar Saat Pengisian BBM