Taj Yasin mengatakan, pengalaman dalam Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) menunjukkan masih banyak persoalan yang memengaruhi tumbuh kembang anak, mulai dari kasus perundungan hingga kekerasan di lingkungan sekitar.
Kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang melibatkan tenaga profesional agar anak memperoleh perlindungan sejak dini.
Ia berharap keberadaan Modul PAUD EMAS mampu membantu para pendidik menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan bebas dari kekerasan.
Menurutnya, pembelajaran di PAUD juga harus mengedepankan aktivitas yang menyenangkan.
Anak-anak tidak seharusnya dibebani materi akademik secara berlebihan, melainkan diberikan ruang untuk bermain, berinteraksi, dan belajar sesuai tahap perkembangannya.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, menambahkan bahwa rapat koordinasi tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi antara Bunda PAUD tingkat provinsi dan kabupaten/kota dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan anak usia dini.
Ia menilai keberhasilan penyelenggaraan PAUD membutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga organisasi profesi.
Pada kesempatan yang sama, Pemprov Jawa Tengah juga menyerahkan Buku Pedoman PAUD EMAS kepada desa-desa yang menjadi lokasi proyek percontohan serta memberikan beasiswa kepada sejumlah lembaga PAUD.
Melalui program ini, Pemprov berharap semakin banyak anak di Jawa Tengah memperoleh layanan pendidikan usia dini yang berkualitas, inklusif, dan berpusat pada kebutuhan anak, sekaligus mendukung pelaksanaan program wajib belajar satu tahun prasekolah.
Artikel Terkait
Polres Demak Temukan Remaja Asal Sukabumi yang Hilang, Sinergi Antarwilayah Berbuah Hasil
Meriahkan HUT Ke-81 RI, Rutan Salatiga Gelar Donor Darah