SEMARANG, kabarsatu.id - Pengembangan pertanian perkotaan terus menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan.
Melalui pelatihan budidaya sayuran hidroponik, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Bidadari di Kelurahan Sampangan, Kota Semarang, mendapatkan pembekalan keterampilan sekaligus wawasan kewirausahaan agar mampu menghasilkan pangan sehat dan bernilai ekonomi.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Yayasan El Wahid Foundation Sinergi Nusantara, Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning (Unilak), dan Yayasan Karya Rumah Sahabat.
Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat memanfaatkan lahan sempit menjadi area produktif.
Wakil Ketua Yayasan El Wahid Foundation Sinergi Nusantara, M. Nafiul Haris, menjelaskan bahwa pelatihan tidak hanya berfokus pada teknik bercocok tanam, tetapi juga diarahkan untuk mendukung penguatan ekonomi keluarga melalui pengelolaan hasil panen.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pembangunan dua instalasi hidroponik yang telah disiapkan sebagai sarana belajar sekaligus praktik bagi anggota KWT.
Dengan fasilitas tersebut, peserta diharapkan mampu mengembangkan budidaya sayuran secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Dalam pelatihan, peserta mempelajari berbagai materi, mulai dari pengenalan sistem hidroponik, penyemaian benih, pengaturan nutrisi, perawatan tanaman, hingga teknik panen agar menghasilkan sayuran berkualitas.
Selain aspek budidaya, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai strategi pemasaran produk.
Materi tersebut disampaikan oleh Founder Eventrue Agency Branding and Marketing, Yanuar Aris Budiharto, yang memberikan pemahaman mengenai cara membangun nilai jual produk dan memperluas peluang pasar.
Haris berharap pelatihan ini dapat menjadi contoh bagi kelompok wanita tani lainnya di Kota Semarang untuk mengembangkan pertanian modern yang ramah lingkungan, efisien, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ketua KWT Bidadari, Zakiyah, mengatakan sistem hidroponik sangat sesuai diterapkan di wilayah perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas dan penggunaan airnya lebih hemat dibandingkan metode pertanian konvensional.
Menurutnya, hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, tetapi juga dapat dipasarkan sehingga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi para anggota.
"Melalui kegiatan ini kami semakin yakin bahwa lahan terbatas bukan menjadi hambatan untuk menghasilkan pangan yang sehat. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, kami optimistis anggota KWT dapat mengembangkan usaha hidroponik secara berkelanjutan," ujarnya.
Sebagai bagian dari pelatihan, peserta juga mengikuti praktik langsung merakit instalasi hidroponik, menanam bibit sayuran, hingga mempelajari teknik perawatan tanaman agar dapat diterapkan secara mandiri setelah kegiatan selesai.