Trump sebelumnya mengatakan Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza telah menyetujui pelucutan senjata sebagai bagian dari proses menuju penyelesaian konflik.
Konflik tersebut bermula setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel.
Hamas Minta Mediator Tekan Israel
Penolakan Netanyahu langsung mendapat respons dari Hamas.
Basem Naim, pejabat senior Hamas, melalui X meminta para mediator dan penjamin dari Amerika Serikat terus menekan pemerintah Israel agar menjalankan peta jalan yang telah disepakati.
“Kami berharap para mediator dan penjamin Amerika akan menekan Netanyahu dan pemerintahannya untuk memaksanya mematuhi peta jalan dan tidak menghalangi jalan tersebut karena alasan politik internal dan elektoral,” kata Naim.
Hamas, menurut Naim, masih menyatakan komitmennya terhadap peta jalan perdamaian tersebut.
Baca Juga: Karsono Bidik Purbalingga Jadi Sentra Atlet Bulutangkis, Kejurkab 2026 Diikuti 314 Peserta
Korban Gaza Terus Bertambah
Di tengah tarik-menarik kepentingan politik itu, korban jiwa di Gaza masih menjadi persoalan utama.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 1.250 orang tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata awal Oktober 2025. Sebagian besar korban disebut merupakan warga sipil.
Secara keseluruhan, lebih dari 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas di Gaza sejak perang dimulai. Hamas belum mengungkapkan jumlah anggotanya yang tewas dalam konflik tersebut.
Penolakan terbuka Netanyahu terhadap rancangan Trump menjadi gesekan yang jarang terlihat di antara dua sekutu dekat tersebut.
Perbedaan sikap itu sekaligus menunjukkan bahwa meski Washington dan Tel Aviv memiliki kepentingan strategis yang kuat, keselarasan keduanya belum tentu berlaku untuk seluruh agenda perdamaian dan masa depan Gaza.