kabar-pendidikan

Unwahas Bidik Tata Kelola Kuat Lewat Budaya Manajemen Risiko

Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:28 WIB
Rektor Unwahas, Prof. Dr. Ir. Helmy sedang memberi sambutan acara. (KabarSatu.id/ foto: humas Unwahas)

Bagi Rektor, manajemen risiko juga bukan semata-mata cara untuk menghindari kegagalan. Lebih dari itu, pendekatan tersebut harus membantu kampus membaca peluang dan memanfaatkannya secara optimal.

“Manajemen risiko bukan hanya tentang bagaimana kita menghindari kegagalan, tetapi bagaimana kita memastikan bahwa setiap peluang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan Unwahas," terangnya.

Baca Juga: Truk Boks Hantam Truk di Tol Batang-Semarang, 1 Tewas

Mutu dan Risiko Berjalan Bersama

Sementara Ketua LPM Unwahas, Dr. Darmanto, S.T., M.Eng., menyambut positif pelaksanaan workshop tersebut.

Ia berharap kegiatan ini mampu memantik semangat civitas akademika untuk terus menjaga mutu dan memberikan kontribusi terbaik bagi institusi.

“Saya berharap adanya workshop ini dapat menjadi acuan semangat bagi para civitas akademika Unwahas untuk dapat terus memberi dampak yang baik bagi kampus tercinta kita," jelasnya.

Untuk memperdalam pemahaman peserta, Unwahas juga menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya, yakni Dr. Deden Wahyudiyanto, M.M., CSA., CRP., CIB., CPIA., GRCP. dari Universitas Paramadina serta Dr. Nor Hadi, S.E., M.Si., Akt., CA., CRA., CRP. dari UIN Sunan Kudus.

Materi workshop tidak hanya membahas konsep, tetapi juga diarahkan pada penerapan praktis di lingkungan kerja masing-masing unit.

Melalui manajemen risiko, setiap program kerja diharapkan memiliki target yang jelas, indikator yang terukur, sistem pengendalian yang baik, serta kesiapan menghadapi berbagai hambatan sejak dini.

Pendekatan ini juga menjadi bagian penting dalam sistem penjaminan mutu.

Penjaminan mutu memastikan proses berjalan sesuai standar, sementara manajemen risiko membantu mengidentifikasi potensi gangguan terhadap standar tersebut dan menyiapkan langkah mitigasinya.

Dengan begitu, mutu dan manajemen risiko tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya menjadi bagian dari satu sistem tata kelola yang mendorong kampus bekerja lebih terukur, antisipatif, dan berkelanjutan.

Rangkaian workshop berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan dan berkonsultasi mengenai penerapan pemetaan risiko di unit masing-masing.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa manajemen risiko mulai ditempatkan sebagai kebutuhan praktis dalam pengelolaan institusi, bukan sekadar dokumen administratif.

Halaman:

Tags

Terkini