kabar-pendidikan

Unwahas Bidik Tata Kelola Kuat Lewat Budaya Manajemen Risiko

Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:28 WIB
Rektor Unwahas, Prof. Dr. Ir. Helmy sedang memberi sambutan acara. (KabarSatu.id/ foto: humas Unwahas)

KOTA SEMARANG, KabarSatu.id - Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) tak ingin manajemen risiko berhenti sebagai urusan administratif.

Dalam hal ini, Unwahas mulai mendorong budaya sadar risiko sebagai pijakan untuk membangun tata kelola yang kuat, menjaga mutu, sekaligus membuat setiap keputusan strategis lebih terukur.

Langkah itu diwujudkan melalui Workshop Manajemen Risiko yang digelar Unit Manajemen Risiko bersama Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Unwahas, Selasa (18/8/2026), di Smart Classroom, Gedung D Kampus 1 Unwahas.

Workshop tersebut mempertemukan jajaran pimpinan universitas dan pengelola unit untuk membahas penerapan manajemen risiko dalam tata kelola perguruan tinggi.

Hadir dalam kegiatan itu Rektor, para Wakil Rektor, Kepala Sekretariat Rektorat, Kepala Bidang, para Dekan dan Wakil Dekan, Ketua Unit Penjaminan Mutu Fakultas (UPMF), para Kepala Lembaga, Kantor dan Unit, Kabag Perencanaan, serta Kabag Pemasaran dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).

Baca Juga: Air PDAM di Semarang Terganggu, Warga Perlu Siaga

Bukan Budaya Takut Mengambil Keputusan

Rektor Unwahas, Prof. Dr. Ir. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., saat membuka workshop menegaskan bahwa manajemen risiko justru harus melahirkan keberanian dalam mengambil keputusan.

Keberanian itu, kata dia, bukan keberanian tanpa perhitungan, melainkan keputusan yang lahir dari data, analisis, serta pertimbangan yang matang.

“Manajemen risiko adalah upaya kita untuk belajar mengantisipasi persoalan sebelum persoalan tersebut menjadi lebih besar. Manajemen risiko bukan budaya takut mengambil keputusan, tetapi justru budaya berani mengambil keputusan secara terukur, berdasarkan data, dan dengan pertimbangan yang matang," ujarnya.

Menurut Prof. Helmy, pola pikir tersebut penting untuk membangun tata kelola Unwahas ke depan.

Setiap unit tidak hanya dituntut menjalankan program, tetapi juga mampu membaca potensi persoalan sebelum berkembang menjadi hambatan yang lebih besar.

Ia berharap workshop menjadi langkah awal membangun risk awareness atau kesadaran risiko di seluruh lingkungan Unwahas.

“Saya berharap kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun risk awareness atau kesadaran risiko di seluruh lingkungan Universitas Wahid Hasyim," pungkas Prof. Helmy.

Prof. Helmy sekaligus mengajak seluruh unsur kampus membangun kebiasaan mengenali dan mengendalikan risiko sebagai bagian dari peningkatan mutu.

“Mari kita bangun budaya: ‘Kenali risikonya, kendalikan risikonya, tingkatkan mutunya," imbuhnya.

Halaman:

Tags

Terkini